Yang Benar, Kapan Hari Raya?

Tahun ini kaum muslimin kembali berbeda pendapat soal ketetapan hari raya Fitri. Secara syar’I ada dua pendapat, yaitu kelompok yang menetapkan hari raya jatuh pada hari Jum’at, dan kelompok yang menetapkan berhari raya pada hari Sabtu. Kalaupun ada pemberitaan yang menetapkan hari raya pada hari Kamis, seperti kelompok naqsabandiyah di Sumatera barat, dan Natsir di Sulawesi Selatan, penetapan itu tidak berdasarkan petunjuk syari’at, maka bisa diabaikan. Demikian juga kelompok yang menetapkan hari raya pada hari Ahad, seperti kelompok Aboge, mereka hanya memegang tradisi hisab urfi warisan Sultan Agung, yang masih sangat kasar sehingga tidak perlu diperhitungkan.

Menghadapi perbedaan pendapat ini kaum awam banyak bertanya-tanya, sebenarnya kapan sih hari rayanya?

Pertanyaan itu sebenarnya biasa saja, kalau ditanggapi biasa. Katakanlah, dijawab hari Jum’at, atau hari Sabtu, selesai. Tetapi kalau dicermati ternyata pertanyaan tersebut membawa dampak yang cukup serius. Sebabnya adalah pertanyan tersebut berkaitan dengan klaim kebenaran (truth claim). Yang mengikuti hari raya pada hari Jum’at menganggap pilihannya adalah pilihan tepat lalu ia memandang yang berhari raya Sabtu salah. Demikian pula sebaliknya. Akibat selanjutnya dari adanya keyakinan ini tentu menyalahkan pihal lain.

Demikian pula yang menganut satu metodologi tertentu menganggap metodenya lah yang benar, sedang metode lain salah. Masih mending kalau menganggap metodenya paling benar, sebab pandangan ini masih menyiratkan pandangan lain benar. Bahkan ada yang mengangap metode lain sebagai metode bid’ah.

Di beberapa milis yang saya ikuti, hingga beberapa hari setelah hari raya masih ada yang mempersoalkan maslah perbedaan pendapat tentang penetapan hari raya maka tulisan yang sedianya untuk simpanan ini saya keluarkan di sini untuk menjelaskan secara singkat tentang perbedaan tersebut, sekaligus bagaimana cara menyikapinya.

Metodologi
Di awal saya sudah mengatakan, bawa ketetapan hari raya yang ditolerir oleh syari’at ada dua, yaitu yang ditetapkan pada hari Jum’at dan Sabtu. Membaca kalimat ini mungkin ada yang heran, kok bisa dua-duanya benar? Bukankah dalam persoalan semacam ini kebenaran hanya ada satu?

Soal menetapkan kapan hari raya akan dikatakan benar manakala metodologinya benar. Dan dikatakan salah bila metode penetaannya salah. Aliran Natsir di Sulawesi Selatan dikatakan salah karena dalam menetapkan didasarkan atas tanda-tanda alam, seperti pasangnya air, atau pergantian bulan. Kalau pergantian bulan yang dimaksud adalah munculnya hilal (bulan sabit) kita bisa menerima, tetapi apa maksudnya pergantian bulan sementara hilal tua saja masih tampak pada tanggal 10 Oktober ba’da subuh. Maka ini menunjukkan kekeliruan metode mereka.

Sementara perbedaan antara hisab dan rukyat, saya nyatakan semua benar tetapi dengan catatan kebenaran dalam metodologis saja. Sedangkan kebenaran hakikinya, saya katakana allahu a’lam bish-showab. Kenapa demikian? Karena baik madzhab rukyat maupun hisab masih mendasarkan sikapnya kepada dalil-dalil baik al-Qur’an maupun hadis.

Madzhab-madzhab Penetapan Awal Bulan Hijriyah
Di balik dua ketetapan hari raya fitri pada tahun 1428 H, ini sebenarnya di kalangan umat islam terdapat banyak madzhab mengenai metode menetapkan awal bulan hijriyah. Secara garis besar, memang madzhab Rukyat dan Hisab, namun di dalamnya masih cukup banyak percabangannya. Berikut adalah beberapa di antara madzhab tersebut;

1. Ijtima’ Qabla l-Ghurub
Yang dimaksud dengan ijtima’ dalam istilah ahli falak adalah posisi dua benda langit yang bersinar dalam satu bujur dari pandangan manusia di bumi. Dengan kata lain, secara bodoh, bila bumi, bulan dan matahari dalam satu garis. Secara astronomis, terjadinya ijtima’ (konjungsi) ini menandai berakhirnya suatu hitungan bulan.

Adapun perhitungan hari dalam tradisi Islam dimulai dari tenggelamnya matahari, bukan pukul 00.00. Menurut madzhab ini, ketika matahari tenggelam sebagai tanda terjadinya pergantian hari, dan di hari itu terjadi ijtima’ sebagai tanda pergantian bulan, maka hari itu dihitung sebagai hari pertama di bulan baru. Madzhab ini tidak mempedulikan tampak hilal atau tidak.

Yang menjadi dasar pendapat mereka adalah beberapa ayat di dalam al-Qur’an, di antaranya adalah;

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (يونس:5)

Dialah yang telah menjadikan Matahari bersinar, dan bulan bercahaya, dan menetapkannya di dalam garis edarnya masing-masing agar kalian mengetahui hitungan tahun dan hisab. Allah sekali-kali tidak menciptakan hal itu melainkan dengan haq, Dia enjelaskan ayat-ayat bagi kaum yang mengetahui (Yasin:5)

Ayat tersebut, difahami secara mutlak bahwa perputaran bumi dan bulan menjadi acuan perhitungan hari, bulan dan tahun. Karenanya kemudian ketika berdasarkan perhitungan falak terjadi ijtima’ sebelum matahari tenggelam, maka hari selanjutnya dianggap sebagai bulan baru.

2. Wujud ul-Hilal
Madzhab ini termasuk ke dalam madzhab hisab, karena dalam menetapkan masuknya bulan baru hanya mendasarkan kepada metode hisab belaka. Prinsip pendapat madzhab ini adalah, jika matahari tenggelam dan secara hisab posisi bulan di atas ufuk, meskipun hilal tidak tampak, maka ditetapkan sebagai bulan baru. Madzhab ini pula yang dianut oleh Muhammadiyah dan Persis (Persatuan Islam). Prinsip tersebut bisa dibaca dengan jelas di dalam maklumat penetapan hari Raya Fithri tahun ini yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah.

Prinsip ini dibangun berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw, di antaranya adalah;

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya tentang bulan sabit (hilal), katakanlah, ia adalah tanda waktu bagi manusia dan hajji (al-baqarah:189)

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ (رواه البخاري ومسلم)

Janganlah kalian berpuasa sehingga melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka (berhari raya) sehingga melihat hilal, jika hilal tertutup maka perhitungkanlah ia (Bukhari dan Muslim)

Surat al-Baqarah di atas menandaskan bahwa kriteria pergantian bulan harus ditandai dengan adanya hilal. Secara lebih teknis, ayat tersebut di atas harus dijelaskan dengan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim. Hanya saja kata faqduru lahu, oleh madzhab ini difahami dan ditafsirkan dengan hisablah. Maka jika hilal tidak nampak oleh mata manusia, cukup dengan perhitungan hisab bahwa hilal sudah ada. Jika sudah demikian, maka cukup untuk menentukan bergantinya bulan hijriyah.

3. Imkanu ru’yah
Madzhab ini selangkah lebih jauh dalam menetapkan kriteria masuk bulan baru, yaitu mengharuskan hilal itu bisa dilihat, meskipun tidak terlihat. Maksudnya, berdasarkan perhitungan hisab, ketinggian hilal memenuhi syarat tertentu sehingga memungkinkan untuk dilihat dengan mata. Musyawarah antar Menteri Agama se Asean (Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura, meneapkan bahwa Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

(1)• Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
(2). Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
(3)• Ketika bulan terbenam, selang waktu dengan ijtima’ tidak kurang dari 8 jam.

Secara dalil, madzhab ini persis dengan madzhab wujudul hilal. Mereka pun sama juga dengan madzhab wujudul hilal dalam memahami kata rukyat, yaitu melihat baik dengan mata kepala maupun dengan ilmu. Hanya saja mereka berbeda dalam menentukan kriteria rukyat. Madzhab ini menekankan persyaratan rukyatul hilal dengan ilmu adalah bila hilal itu memungkinkan untuk bisa dilihat dengan mata kepala.

4. Rukyat
Madzhab ini memandang bawa pergantian bulan barua mutlak harus ditandai dengan adanya melihat hilal. Melihatnya bukan hanya berdasarkan perhitungan, tetapi harus melihat di lapangan. Namun sejauh ini saya tidak tahu secara persis apakah masih mempertahankan prinsip melihat hilal dengan mata tanpa alat… Namun yang pasti, hilal kelihatan dengan mata kepala sebagai tanda bergantinya bulan. Apabila hilal tidak kelihatan, maka hitungan bulan akan digenapkan menjadi 30 hari. Dasar yang mereka gunakan, selain ayat-ayat dan hadis yang telah disebutkan di muka, juga hadis-hadis yang akan disebtkan nanti, Insya allah.

Meskipun ayat-ayatnya sama dengan ayat yang lain, penganut madzhab ru’yat ini cenderung memahami ayat-ayat hisab sebagai sebuah ketentuan umum, bahwa pergantian siang dan malam, adanya bulan dan matahari di antara fungsinya adalah untuk mengetahui bilangan waktu. Namun di samping dalil umum, ada hadis yang bersifat khusus. Karena itulah ayat-ayat yang umum harus ditakhsis (dijelaskan dengan hadis yang khusus). Kekhususannya itu adalah menentukan awal bulan ditandai dengan melihat hilal.

Tentang hadis yang digunakan, selain hadis di atas ada teks yang sedikit berbeda, yaitu;

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ (رواه البخاري)

Berpuasalah karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal, jika hilal terhalang maka sempurnakanlah hitungan sya’ban 30 hari (al-bukhari)

Meskipun teks hadis ini menyatakan sempurnakan bulan sya’ban 30 hari, namun pemahamannya adalah tanda pergantian bulan adalah tampaknya hilal. Jika tidak tampak maka hitungannya harus digenapkan 30 hari. Setelah itu baru dianggap berganti bulan. Adapun penyebutan bulan Sya’ban dianggap sebagai sebuah kasus, saja.

Madzhab rukyat ini bukan berarti tidak mau melakukan hisab. Mereka pun menggunakan hisab sebagai perhitungan awal, tetapi bukan untuk menentukan awal dan akhir bulan, melainkan untuk memperkirakan saja. Tetapi jika dalam perhitngan hisab bulan masih di bawah ufuk sekalipun lalu ada orang yang menyatakan bisa melihat hilal, mereka berpegang pada pengakuan itu setelah disyahadah, sebagaimana hadis

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا

Datang seorang Badui kepada Rasulullah saw, dia berkata; aku telah melihat hilal, maka beliau bersabda; apakah kau telah bersaksi bahwa tiada ilah melainkan Allah, dan bahwasannya Muhammad adalah Rasul Allah? Ia menjawab, Ya. Maka Rasul berkata kepada Bilal; Hai Bilal, adzanlah untuk manusia agar mereka berpuasa besok hari (Bukhari)

Berdasarkan hadis ini, jika ada orang mengaku telah merukyat hilal, maka yang harus dilakukan adalah mensyahadahnya. Selesai. Berbeda dengan pengakuan rukyat dihadapan madzhab imkanu rukyat, jika secara hisab tidak bisa dilihat lalu ada orang mengaku melihat hilal, maka pengakuannya itu dianggap dusta dan tidak perlu dipercaya.

5. Rukyat Global
Maksud dari rukyat global ini adalah bila ada seseorang di suatu Negara telah melihat hilal, maka seluruh dunia Islam telah memasuki bulan baru, baik di Timur maupun barat.

Dasar petimbangan madzhab ini, adalah firman Allah;

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Barangsiapa di antara kalian telah melihat bulan, maka berpuasalah (al-Baqarah;185)

Kata minkum di dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa yang melihat tidak harus semua kaum muslimin, tetapi cukup beberapa orang saja di antara mereka. Bahkan satu orang pun cukup.

Kemudian, ayat ini dikaitkan dengan kesatuan umat islam, bahwa umat Islam di mana saja adalah satu tubuh yang tidak boleh dipisahkan oleh batasan geografis. Karenanya, di mana saja hilal bisa dilihat maka seluruh dunia islam harus mengikutinya.

6. Kalender Hijriyah Global

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal. Keberhasilan rukyat di Zone Timur akan diikuti oleh Zone Barat dan keberhasilan rukyat di Zona Barat tidak diikuti oleh Zona Timur jika rukyat gagal di zona ini.

Kalender Hijriyah Global ini agaknya merupakan koreksi terhadap rukyat global, dengan mempertimbangkan wilayah geografi.

Ijtihad
Setalah memahami berbagai metode dalam menentukan awal bulan hijriyah, tambah pusing kan? Ternyata umat islam itu adalah satu tubuh yang memiliki aneka ragam pikiran…. Maka tidak perlu merasa benar sendiri, tetapi mari memberikan toleransi terhadap kebenaran versi saudara kita. Ini bukan berarti tidak boleh memandang pendapat sendiri benar, tetapi bukan mutlak benar, melainkan kebenaran relative.

Lalu kaitannya dengan hari raya, mana yang benar? Ya.. masing-masing benar dengan kriterianya sendiri-sendiri…. 

Kok bisa? Ya, karena masing-masing berijtihad untuk menentukan awal bulan. Mereka telah mendasarkan pada ayat-ayat al-Qur’an dan hadis nabi saw. Jika benar ijtihadnya maka ia akan mendapatkan dua pahala, jika salah maka ia mendapat satu pahala. Sabda nabi saw

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

Apabila seorang haim memutuskan hokum, lalu ia berijtihad dan benar ijtihadnya maka ia mendapat dua pahala, jika ia memutuskan salah maka ia mendapat satu pahala.. (HR at-Tirmidzi)

Tuh, kan. Selama usaha itu masih dalam koridor ijtihad, meskipun marjuh, kita harus tetap menghormatinya. Sebab ijtihad suatu hakim tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad yang lain, sebagaimana kata ahli ushul..

اْلإِجْتِهَاُد لاَ يَنْقُضُ بِاْلإِجْتِهَادِ

Ijtihad itu tidak bisa dibatalkan dengan ijtihad yang lain

Satu Tanggapan

  1. saya adalah hamba allah yang awam,tapi saya merasa heran kenapa sih umat islam saat ini kok tidak kompak tapi merasa kalau dirinya paling benar.

    ————–
    Biasa, kalau tidak ada pihak ketiga yang mnyelesaikan masalah, tidak akan selesai berbeda pendapat. Orang islam itu juga manusia. Pihak ketiga itu adalah ulil amr.

    Sebenarnya bukan hanya umat Islam. Penanggalan gregorian pun bisa disepakati juga baru beberapa tahun ini, sebab penanggalan gregorian digunakan secara internasional, sehingga yang tidak mau menerima semakin terkucil. Maka, karena ada “penguasa” yang mengunakannya semua pihak bisa menerima. sementara umat Islam belum memiliki penguasa yang tegas memilih penghitungan penanggalan hijriyah. sabar, yah. do’akan semoga umat ini bisa bersatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: