Koreksi RHI

Berikut tulisan Pak Ma’rufin DP JAC dan RHI Kebumen, setelah mengumpulkan data selama satu tahun (2007). Tulisan ini telah di muat di beberapa Milis Astronomi, Falak, dan sejenisnya:

Alhamdulillah, setelah rada lama dikumpulkan dan
dikutak – katik, akhirnya bisa juga ditabulasikan data
hasil pengamatan RHI terhadap hilaal dan sabit tua
beserta analisisnya. Data ini diambil selama selang
waktu setahun Gregorian, tepatnya pada periode Januari
2007 – Januari 2008 lewat jaringan RHI yang
berdomisili di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, DIY
dan Jawa Timur.

Pengumpulan data ini dilakukan RHI sebagai suatu upaya
untuk enlightment, mendapatkan data yang valid dan
reliabel tentang visibilitas hilaal/bulan sabit tua
dari kawasan Indonesia. Sebab dari sekian banyak
observasi dan tabulasi yang telah dilakukan (misalnya
seperti great database ICOP sebagaimana yang
ditabulasikan Odeh yang mencakup > 700 data), jarang
yang berasal dari daerah khatulistiwa maupun lintang
rendah dan lebih jarang lagi yang berasal dari benua
maritim seperti Indonesia. Padahal dengan lokasinya
yang lebih didominasi badan air (baca : laut)
dibanding daratan, dengan sistem cuaca yang dikontrol
oleh variabel angin muson, ENSO (El Nino Southern
Oscillation) , IODM (Indian Ocean Dipole Mode) dan MJO
(Madden Julian Oscillation) baik secara parsial maupun
simultan, kondisi langit di Indonesia jauh berbeda
dibandingkan dengan langit kontinental di lintang
menengah – tinggi tempat dimana data2 Odeh (juga
Yallop, Fotheringham, Maunder dan Schaefer) banyak
diperoleh.

Alhamdulillah selama selang waktu ‘hanya’ 1 tahun itu
bisa terkumpul 16 data pengamatan yang “dianggap”
valid dan reliabel menurut prosedur seleksi data RHI.
Uji normalitas menunjukkan ke-16 data ini bersifat
normal. Secara kualitatif ini cukup baik bila kita
bandingkan dengan data-data yang ditabulasikan Depag
RI, misalnya selama kurun waktu 1967 – 1997 yang
terdiri dari > 30 data namun setelah diseleksi
ternyata hanya 11 data yang bisa dianggap valid dan
reliabel (lihat di Djamaluddin, 2000).

Dari data-data ini bisa disimpulkan, visibilitas
hilaal di Indonesia tidak bisa dinyatakan ke dalam
variabel/prediktor tunggal, entah berdasarkan Umur
Bulan, elongasi, Lag maupun tinggi Bulan. Sebab
ketidakpastian yang disebabkan oleh prediktor tunggal
ini ternyata jauh melampaui lebar wilayah Indonesia
(yakni 46º bujur) sehingga sama sekali tidak
applicable.

Data-data ini juga menghasilkan koreksi RHI, yakni
koreksi bagi kriteria LAPAN yang ditujukan untuk
memperbaiki “kriteria” MABIMS. Jika kriteria LAPAN
(lihat Djamaluddin, 2000) menggunakan pertidaksamaan :
aD > 0,14 DAz*DAz – 1,83 DAz + 9,11 yang membuat pada
kondisi tertentu nilai elongasi Bulan minimum bisa
kurang dari 7º (alias di bawah Danjon Limit, kondisi
dimana hilaal/bulan sabit tua tak mungkin terlihat)
maka Koreksi RHI menyajikan pertidaksamaan : aD >
0,2091 DAz*Daz – 1,9882 DAz + 13,273. aD = selisih
tinggi Bulan dan Matahari pada saat sunset dan DAz =
selisih azimuth Bulan dan Matahari pada saat sunset.

Data-data ini memang belum mencukupi untuk membuktikan
hipotesis Schaefer maupun Odeh, yang menyebut
visibilitas hilaal adalah persoalan statistik. Dimana,
pada kondisi yang sangat ekstrim misalnya, dari 100
titik pengamatan yang sama-sama menjumpai langit dalam
kondisi memungkinkan hanya 50 titik saja yang mampu
melihat hilaal. Sebagai persoalan statistik, maka
observasi adalah hal mutlak yang harus dilakukan dan
di titik ini adalah tidak relevan lagi menghadapkan
“metode” rukyat vis a vis “metode” hisab, karena
keduanya saling melengkapi.

Demikian, untuk para skylovers, sky gazers dan
terutama anggota/simpatisan RHI, ditunggu
laporan-laporan berikutnya, sehingga database ini bisa
makin berkembang dan semakin mempertajam analisisnya,
untuk diambil kesimpulan yang lebih akurat.

salam

Ma’rufin

Wa Allahu a’lam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: