Rekap Kasus “Hilaal Salah Lihat”

Rekapitulasi Kasus “Hilaal Salah Lihat” yang terjadi di Saudi Arabia, Jordania dan Indonesia.

Didasarkan pada wawancara Dr. Moh. Odeh pada program Bila Hoodod di Al Jazeera TV, 2 Januari 2008 lalu serta paper Prof. M. Ilyas (1994) dan Dr. T. Djamaluddin (2000). Beberapa istilah yang digunakan :

– Hilaal pasti salah lihat: adalah hilaal yang diklaim terlihat/visible, sementara Bulan sudah terbenam lebih dulu dibanding Matahari.

– Hilaal sangat mungkin salah lihat: adalah hilaal yang diklaim terlihat/visible, sementara secara astronomis meski Bulan masih ada di atas horizon kala sunset, elemen Bulan masih jauh dari mencukupi ketentuan visibilitas hilaal saintifik, sehingga peluang visibilitas jauh lebih kecil dari 50
%.

– Hilaal tidak salah lihat: adalah hilaal yang diklaim terlihat/visible, sementara secara astronomis Bulan ada di atas horizon kala sunset, elemen Bulan sudah mencukupi ketentuan visibilitas hilaal saintifik sehingga peluang visibilitas > 50 %.

# SAUDI ARABIA

Dari 46 data laporan rukyat positif (artinya mengklaim melihat hilaal) dalam penentuan awal Ramadhan untuk kurun waktu 1961 – 2004 :
– 29 data (63 %) pasti salah lihat.
– 11 data (24 %) sangat mungkin salah lihat.
– 6 data (13 %) tidak salah lihat.

# YORDANIA

Data diambil sejak 1954 hingga 2007, dibedakan untuk Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah.

Ramadhan :
———-

Dari 56 data laporan rukyat positif :
– 28 data (50 %) pasti salah lihat.
– 23 data (41 %) sangat mungkin salah lihat.
– 5 data (9 %) tidak salah lihat.

Syawwal :
———

Dari 56 data laporan rukyat positif :
– 34 data (61 %) pasti salah lihat.
– 18 data (32 %) sangat mungkin salah lihat.
– 4 data (7 %) tidak salah lihat.

Zulhijjah :
———–

Dari 56 data laporan rukyat positif :
– 21 data (38 %) pasti salah lihat.
– 24 data (43 %) sangat mungkin salah lihat.
– 11 data (19 %) tidak salah lihat.

# INDONESIA

Dari 38 data laporan rukyat positif untuk Sya’ban, Ramadhan dan Syawwal yang dihimpun Depag RI untuk kurun waktu 1962 hingga 1997 :
– 27 data (71 %) sangat mungkin salah lihat.
– 11 data (29 %) kemungkinan tidak salah lihat.

Disini data yang “pasti salah lihat” dan “sangat mungkin salah lihat” adalah data yang meragukan. So,
terlalu banyak data meragukan dalam laporan rukyat positif di negara kita maupun negara2 Muslim lainnya.
Sementara kita Umat Islam diharapkan berpegangan pada yang qath’i, bukan zanny. Ayo perbaiki !

Salam

Ma’rufin Sudibyo (Penasehat RHI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: