Star Camp CASAwati

StarCamp CASAwati

StarCamp CASAwati

Kamis-Jum’at: 28-29 Agustus 2014, CASAwati (Pengurus dan Anggota CASA= Club Astronomi Santri Assalaam) putri akhirnya berhasil menggear agenda yang direncanakan jauh hari sebelumnya. Acara utama adalah StarCamp, yakni melakukan observasi langit di lokasi yang masih ‘perawan’ alias gelap tanpapolusi cahaya selain cahaya alam. Acara dilangsungkan di Pantai Damas, desa Karanggandu, kecamatan Watulimo, kabupatten Trenggalek Jawa Timur.

Penampakan Pusat Galaksi Bimasakti, di balik rindangnya Pohon Kelapa:

Pusat Bimasakti

Pusat Bimasakti

Pusat Bimasakti

Pusat Bimasakti

Rasi Orion juga sempat nongol beberapa saat:

Rasi Orion

Rasi Orion

 

Berikut Galery Kegiatan:

=================

Ini Video Timelapsenya :

 

Berikut Catatan Ustadz DarmaOne: (FB = https://www.facebook.com/darmawan.rhs)

========================

Perjalanan kali ini membawa saya menuju Trenggalek, dengan 1 bis penuh anggota Club Astronomi Santri(wati) Assalaam (CASA), 3 ustadz senior, 1 ustadzah senior, dan 1 ustadzah junior

medan yg ditempuh sungguh berliku, tikung kanan tikung kiri, nanjak turun, apalagi sudah masuk daerah Trenggalek, 6 jam non stop bis melaju kencang, dari jam setengah 4 sampai setngah 10 malam. tak terasa karena “molor” di belakang supir, obat ampuh mabuk darat , hanya terasa goyang2, terkadang terantuk jendela kaca

sampai di lokasi, (desa paling ujung, tapi bukanlah rumah2 sederhana khas nelayan, tapi justru rumah2 apik khas rumah perkotaan di desa tsb, bukti bahwa pembangunan desa tsb berjalan baik), jamuan bu lurah sungguh istimewa, berbagai macam lauk khas sudah tercepak sedia, lodhok ayam salah satunya. bangun tidur langsung makan, maknyuss

rumah bu lurah hanyalah transit sementara, perjalanan malam pun dilanjutkan menggunakan mobil pickup “DEMANG, transportation of banana” menuju Pantai Damas. sekitar 2 km, (mungkin lebih). Yg dilakukan di sana hanyalah seputar “mendangak” dan “mengintip”, ayat2 kauniyah

“mendangak” – mengamati langit yg berlukiskan gemerlap bintang gemintang di malam yg cerah
“mengintip” – melihat melalui teropong bintang ke obyek2 langit, siapa tahu ada alien yg tertangkap kamera

suasa gelap langsung menyelimuti, tak ada lampu sorot maupun penerangan di pantai itu, beberapa lampu rumah berderet 100 meter di bibir pantai, tak begitu terang.

diiringi suara deburan ombak yg tak jauh di sebelah timur, sreeettt (suara air laut surut), gebyurrr (suara ombak saling menghantam) begitu berirama, saling bersahut2an

hembusan angin “sepoi2” ke arah barat yg tak begitu kencang, tak begitu dingin, membawa aroma laut dan pasir yg khas

beberapa titik lampu terlihat di tengah laut, tanda bahwa ada kapal yg sedang berlayar, begitu juga di dermaga di sebelah utara, tempat pelelangan ikan

pengamatan bintang dilakukan semalam suntuk, ditemani dengan pisang bakar (sendiri), singkong bakar (sendiri), sosis bakar (sendiri), jagung bakar (sendiri) yg ndk mateng2 plus degan yg jatuh berserakan di sekitar lokasi kemah

andromeda, antares, orion, crux, dan bermacam2 nama bintang yg entah saya sendiri belum bisa membedakannya bertebaran di langit sana, tapi sayang, tak ada gambar langit yg bisa diabadikan dengan kamera saya, karena hanya kamera khusus astrofotografi yg bisa

jam menunjukkan 01.30, sudah banyak anak2 tepar di atas tikar yg hanya beratapkan langit, saya pun juga ikutan tepar, ndak ngantuk, tapi terbawa suasana

tak berapa lama, angin tak lagi sepoi2, sudah berhembus ribut, dingin, jaket yg sempat tergeletak pun tak pakai, dingin. anak2 yg tepar di seberang pun sudah berpindah lokasi k mushola yg “mungkin” lebih hangat, jian, pindah ndk ngajak2

lihat HP yg ndk ada sinyalnya, masih sekitar jam 3, 2 ustadz senior samping saya masih terlelap, biarin aja ah hehehe , kasian, kecapean

jalan2 bentar, lihat anak2 yg masih melek “mendangak” dan “mengintip”, ke bibir pantai mencari, seperti apa sih fajar kadzib, tapi sayang, langit mulai berawan, jepret2 sebentar, kembali lagi ke tempat kemah

ustadz2 tadi sudah menggeliat, mulai merasakan kedinginan sepertinya hehe

“ustadz, ustadz, bangun2, pindah ke teras mushola aja” tak bangunin
beliau bangun dan melihat sekililing, kosong, hanya bara api yg sudah mati dari tadi

‘ooo jian, pindah ndk ngajak2’ mungkin batinnya seperti itu

lanjut berkeliling lagi, langit masih berawan, perlahan shubuh datang, anak2 yg semula melek, akhirnya tepar juga duduk berderet di teras masjid, emang waktu shubuh paling nyaman buat tidur

pagi mulai menyingsing, ank2 yg “ngungi” ke dalam musholla satu persatu keluar, sholat dan JJP

kali ini giliran kamera saya jeprat jepret, sambil berjalan menyusuri bibir pantai

suara debur ombak berirama 1 2, sreeettt . . .gebyurr. . .serrr . . .

kepiting2 kecil berlarian menuju daratan, berhasil berjuang melewati derasnya ombak

pilar2 cahaya menembus awan di tengah laut, bukti bahwa cahaya bersinar membentuk garis lurus

sapuan ombak yg melukis di atas pasir, lukisan indah bergambar batang pohon bercabang

coret2an ank2 di atas pasir, menunjukkan ke eksisan mereka di pantai Damas ini

pohon2 kelapa berbuah yg berderet rapi di bibir pantai, tak begitu tinggi, tinggal jinjit memetiknya

250 m k selatan dari lokasi kemah, ternyata ada genangan air tawar, seperti sungai hanya tak mengalir deras, tumbuh lebat di tengahnya tanaman bakau, hijau airnya, tak sampai 100 meter dari air laut yg biru, tapi heran, tak asin airnya

mulai berpergian warga setempat, menyambung aktivitasnya, nelayan, petani, dll, 1 2 motor lewat, 1 mobil menjemput anak2 yg berangkat sekolah. mulai ramai

jam 7 tet, kembali ke lokasi siap2 berkemas, dan ternyata ada insiden

ada 1 anak, yg bermain2 dgn jelly fish, unyu memang, seperti balon plastik transparan dgn rumbai2 warna biru, tapi ketika dipencet maknyuk, jlerett..disengatlah tu tangan, merambat sampai bahu, hampir pingsan

ustadz ustadzah yg masih di lokasi bingung, mau nelpon bu lurah, tak ada sinyal, ada warga yg menawarkan diri membawa ke “mbah2” (dukun mungkin y ), waduh repot ni, gawat klo merambat smp jantung, ada yg menyuruh menggosok2an ke tanah, yg lain menyuruh digosok2 terus dikasih bensin (tinggal disumet kasih api )

alhamdulillah ternyata ada warga yg masih keluarga dgn bu lurah, dan membawa anak tadi lsg k rumah bu lurah

saya yg masih JJP an mah nyantai2 aj jeprat sana sini ndk tau ternyata di lokasi kemah sana ada yg tersengat wkwkwk

dalam perjalanan kembali k rumah bu lurah, melewati kebun2 cengkeh, kopi, duren (jika musimnya), coklat, kelapa dll, ternyata banyak yg terlewati ketika malam berangkat ke pantai, bahkan sempat melewati kuburan dengan keranda dijadikan gapuranya a

sarapan tinggal milih salah satu atau 4 sekaligus dari lodhok ayam, dan 3 macam ikan lainnya plus secangkir kopi susu, nyam nyam

jam 10 tet, perjalanan pulang, setelah sesi poto2 dgn bu lurah, 37 santriwati, plus pendampingnya, satu dua ti. . . .jepret

medan yg dilalui ternyata bertebing dan berjurang, di sisi kanan tebing yang rawan longsor, di sisi kiri jurang dalam, dengan jalan sempit dgn 2 ruas bolak balik,

bis megaal – megool, kanaan kirii, naik turun melewati bukit – bukit, klakson sana sini ketika menikung, memberi tanda kalau rombongan CASA mau lewat

mau dipakai tidur tapi kepala jedag jedug natap jendela, walaupun tak lama kemudian juga tepas

2 kali pitstop, pertama di masjid trenggalek buat jumatan, yg kedua d masjid ponorogo ambil makan siang

sisanya . . tak ada yg perlu diceritakan, sudah terlelap hehe

dalam 2 hari perjalanan ini, ada rasa galau, kenapa y?

 

Semoga CASA tetap istiqomah mengembangkan astronomi di Indonesia..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: