Earth Hour 60+ 2015

earth_hour_60+_CASA_darmaone_3CLIMATE CHANGES!!! Begitulah isu yang sering kita dengar belakangan ini. Bahkan dalam sebuah ringkasan laporan “Global Environment Outlook: GEO4” yang dikeluarkan oleh United Nation Environment Programme (UNEP) menyebutkan data yang mencengangkan! Dalam satu abad terakhir, bumi “menghangat” (jika tidak ingin dikatakan “makin panas”) sebesar 0.79 derajat Celcius dan diprediksi akan meningkat 1.8 hingga 4 derajat Celcius di akhir abad ini (Velasquez, 2014 p.262). Coba kita ingat kembali dalam 100 tahun terakhir, perkembangan teknologi meningkat tajam, terlebih semenjak terjadinya World War I. Berbagai penemuan yang membantu pekerjaan manusia terutama ditemukannya mesin uap yang mendorong terjadinya Revolusi Industri. Percepatan semakin terlihat, bisa kita lihat dan rasakan sekarang. Perkembangan teknologi tersebut tak hanya membawa manfaat yang besar bagi umat manusia, tapi juga berdampak kepada lingkungan. Eksploitasi mineral yang masif, penebangan liar di daerah hutan lindung, atau penggunaan bahan kimia beracun merupakan bentuk “ketamakan” manusia akan kekayaan alam. Lalu apa yang terjadi? Polusi merebak di mana-mana dalam berbagai bentuk: air, tanah, udara. Ozon menipis. Energi terdeplesi. Dan isu yang paling fenomenal adalah pemanasan global. Es di antartika mencair. Ketinggian air laut meningkat. Iklim berubah.

Cuaca tak lagi sesuai prediksi para petani melalui ilmu “perbintangannya”. This is disaster!!! Berbagai cara peneliti menemukan solusi. Mengubah penggunaan bahan bakar fosil. Mengkampanyekan “go green”, “bike 2 work”, “penanaman sejuta bibit”. Mengganti penggunaan CFC. Mengurangi penggunaan plastik undegradable. Pemerintahan pun turut serta dalam krisis global ini. Regulasi-regulasi digulirkan. Pelarangan penggunaan mesin 2 tak. Pembatasan penggunaan energi non-renewable. Carbon trading. Semua usaha dilakukan karena “Bumi sedang sakit”. Sebuah gerakan inisiasi pun dilakukan (yang kini didukung penuh oleh WWF). Kali pertama dilakukan di Negeri Kangguru, Sydney Australia pada tahun 2007. Mendapat respon yang baik, kini gerakannya masif serentak dilakukan di berbagai negara. Suatu gerakan sederhana, memadamkan listrik setiap Sabtu akhir di bulan Maret sejak pukul 20.30 hingga 21.30. Yang di kemudian hari gerakan ini terkenal dengan nama “Earth Hour 60+”. Tercatat pada tahun 2015 ini (sampai diketiknya tulisan ini), 172 negara turut serta, lebih dari 1400 landmark, 41.910 lokasi tercatat di peta digital, lebih dari 378 juta “kicauan” Earth Hour dalam seminggu, dan lebih dari 5.9 juta postingan FB tentang Earth Hour seminggu ini. (www.earthhour.org) CASA (Club Astronomi Santri Assalaam) tak tinggal diam. “Panggilan” untuk turut serta dalam gerakan internasional, menggerakkan para anggotanya untuk turut “mendinginkan” bumi (28/3). Tak hanya pemadaman lampu di kamar dan asrama. Tapi seluruh komplek pondok, baik putra maupun putri dipadamkan. Waktu untuk belajar malam pun terpaksa dikorbankan, terlebih bagi santri kelas 12 yang esok paginya masih bergulat dengan Ujian Akhir Pondok. Selama satu jam penuh, tak ada cahaya lampu. Hanya terlihat temaram cahaya lilin dan sorotan lampu senter di beberapa titik. Lebih dari 2.400 santri berkumpul di lapangan, 1.200 santriwan di lapangan depan dan separuh lainnya (santriwati) di lapangan basket putri. Atraksi-atraksi pun dilakukan untuk mengisi “keheningan” malam. Permainan sorotan lampu senter hingga penerbangan lampion. Santri-santri kecil pun berebut ingin juga melepaskan lampion ke angkasa. Bahkan putra-putri ustadz/ah ikut dalam keramaian, memandang belasa lampion yang diterbangkan. Terbang, membawa asa. Asa akan “kesembuhan” bumi pertiwi. Malam semakin larut, hawa dingin pun menyelimuti, bekas-bekas hujan deras masih jelas terlihat di rerumputan. Hampir satu jam sudah pemadaman dilakukan. Kantuk mulai menyerang para santri. Dan kegiatan diakhiri dengan dinaikkannya kembali tuas saklar listrik tepat pukul 21.30. Namun, kehidupan santri tak berhenti sampai situ. Masih ada 30 menit, cukup untuk “meneriakkan” kosa kata Arab & Inggris. Memperkaya kemampuan bahasa surga dan internasional.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

@KA Sriwedari Solo – Yogya, 22.16 Ahad, 29 Maret 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: