In Memoriam, Khoirul Miftah, Eksponen CASA 2015

in_memoriam_khoirul_miftah (9)Siapa yang mengira bahwa seorang pemuda yang baru saja menginjak bangku kuliah, sudah “dipanggil” terlebih dahulu. Baru saja merasakan bebasnya kehidupan selepas lima tahun di pesantren (peserta program Akselerasi MTs). Senyumnya, masih lekat di ingatan teman-temannya. Canda tawanya saat pelajaran matematika, masih terdengar dengan teman sekelasnya di kampus karena merasa sama-sama tidak bisa. Suluknya yang terkenal sholeh, masih diingat betul oleh ustadz-ustadzahnya di pesantren.

Allah memanggil hambanya hanya tiga kali. Pertama adalah panggilan shalat, dan almarhum sangat rajin memenuhi panggilan ini. Kedua adalah panggilan untuk datang ke rumah-Nya, menunaikan haji, almarhum pun terjadwal dua tahun lagi memenuhi panggilan ini. Namun, sepertinya Allah sudah sangat merindukan dirinya berada di sisi-Nya, maka Ia panggil terlebih dahulu, panggilan terakhir, panggilan kematian.

Dibesarkan tanpa figur ayah, menjadikannya mencari sosok pemimpin yang sekiranya dapat dicontohnya. Beruntung ibunya kenal baik dengan salah satu wali asrama di pesantren, sehingga setiap ada permasalahan selalu dikonsultasikan kepadanya. Bahkan, almarhum sendiri berkonsultasi terlebih dahulu kepada wali asramanya sebelum kepada ibunya sendiri.

Meninggalkan ibu dan kakak perempuan yang baru saja melaksanakan wisuda, membuat keluarga semakin dirundung duka dan haru bagi yang datang melayat. Kematian tiba-tiba tanpa ada yang dapat menduganya membuat keluarga terkejut bukan main, bahkan teman-temannya tak ada yang percaya. Melihat ibu dan kakaknya yang matanya selalu basah, sembab, membuat saya tak tega jika menanyakan perihal kematian almarhum. Walhasil hanya dari teman-teman sekampusnya yang dapat kuperoleh. Teman-teman yang terakhir kali melihat almarhum bahkan ikut menemani dari tanah perantauan di Semarang, menuju kampung halamannya di Cilacap.

Bagaimana tidak membuat kaget jika hari Kamis, sehari sebelum meninggal, almarhum masih bercanda dengan teman-teman sekelasnya. Bahkan siang harinya, sempat membuat janji dengan temannya bahwa temannya akan datang ke kos almarhum. Namun, betapa terkejutnya ketika sore harinya saat temannya ini masuk ke kamar dan menemukan almarhum sedang tengkurap sedangkan Al-Quran berada dalam genggamannya.

Begitu dibangunkan, tapi tak mendapat respon, ia balik almarhum, dan melihat ada darah keluar dari mulutnya. Segera ia larikan ke rumah sakit sekaligus mengkabari keluarganya yang di Semarang. Tapi apa kata dokter? Almarhum sudah meninggal dua jam yang lalu. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Apa penyebabnya? Wallahu a’lam, mungkin almarhum memiliki penyakit dalam tapi tak ingin merepotkan ibunya. Saya pun tak ingin menebak-nebak apa penyakitnya, walaupun muncul beberapa asumsi dalam benak saya berdasarkan sekelumit informasi yang kuperoleh. Tapi apalah saya, dokter juga bukan, hanya lulusan kedokteran mesin.
Almarhum dikenal oleh teman-teman sekelasnya di kampus sebagai pribadi yang suka mendengarkan musik, tapi menghapal AlQuran pun tak pernah luput darinya. Ah mungkin temannya melihat ia menggunakan headset mengira sedang mendengarkan musik tapi ternyata murottal Quran lah yang didengarnya.

Tetangganya pun mengenal pribadi almarhum sebagai anak yang suka tadarrus di masjid dekat rumahnya. Mengisi malam-malam Ramadhan dengan tadarus AlQuran tanpa membacanya. Itu berarti ia mengandalkan hapalan AlQurannya. Masya Allah. Memang ketika almarhum lulus dari pesantren dengan predikat syahadah, 14 juz sudah berada dalam ingatannya.

Dari profil singkat di atas, orang tua mana yang tak tertarik untuk menjadikannya menantu. Sosok menantu idaman: alumni pesantren dengan predikat Syahadah (dengan pujian), bibit penjaga AlQuran, pintar dan cerdas terbukti sebagai santri program Akselerasi MTs dan lulus seleksi tanpa tes di kampus teknik UNDIP. Bahkan ustadz-ustadzah di pesantren pun masih mengenal betul siapa almarhum.

Maka, tak salah jika ternyata ada temannya yang diam-diam memendam “rasa” kepada almarhum. Hal ini saya ketahui dari membaca acak tulisan bela sungkawa dari teman-temannya pada hari itu. Dan ~ah, betapa menyedihkan rasanya. Benarlah kata Imam Syafi’i berikut ini, “Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”. Bahkan mungkin saya sendiri tak kuasa jika merasakannya. (T_T)

Ada keinginan dirinya untuk menghadiahi “mahkota surga” bagi ayahnya yang sudah lebih dahulu meninggalkannya dan ibunya yang berjuang sendirian selama enam belas tahun menafkahi almarhum dan kakak perempuannya. Almarhum berniat untuk mengabdikan dirinya di pesantren sekaligus mengkhatamkan 30 juz hafalannya setamat dari pesantren. Namun, pengumuman bahwa ia diterima tanpa tes di Teknik Perkapalan UNDIP, mengubah rencana semula untuk mengabdi tanpa mengurangi niat untuk tetap mengkhatamkan hafalan 30 juznya. Masya Allah.

Kembali saya teringat penuturan temannya yang menemukan almarhum meninggal dan AlQuran berada dalam genggamannya. Masya Allah, insya Allah almarhum meninggal khusnul khotimah. Belum genap 17 tahun umurnya, satu lagi bibit penjaga AlQuran lebih dahulu dipanggil di mana Allah lebih merindukannya berada di sisi-Nya.

In Memoriam, Khoirul Miftah, eksponen CASA

~DarmaOne

18 Okt 2015, 00:21

*ah, sepertinya mata saya kelilipan ketika mengetik ini


Update info 8 November 2015. 05:23 : info terakhir dari kakak almarhum bahwa Irul (sapaan akrab almarhum) meninggal disebabkan Demam Berdarah. Demam selama 3 hari namun tak ingin membuat repot keluarga di rumah. Pun ketika ditelepon ibunya, Irul tidak mengaku, walaupun insting seorang ibu tak bisa dibohongi.

Pesan dari kakaknya, bahwa Tembalang (lokasi di mana Irul tinggal selama kuliah) merupakan endemik demam berdarah, sehingga diharapkan agar selalu berhati-hati. Dan menyampaikan mohon maaf jika almarhum memiliki perilaku yang kurang berkenan.

Salah satu gambar yang pernah almarhum kirim dalam grup Whatsapp Eksponen CASA adalah berikut ini kiriman irul ke dalam grup

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: