Ibunda CASA Mengambil Mantu

Ibunda CASA ambil mantu_darmaone

Barakallalaka wa baraka ‘alaika wa jam’a bainakuma fii khaiir… kepada kedua mempelai, Nida Asriati, putri dari Ibunda Eksponen CASA – Ustadzah Dra. Hj. Sirikit Eko Usdiani dan Ustadz H.M. Farchan. Begitu juga kepada sang suami yang juga merupakan alumni satu almamater pesantren, mas Hermadi Fajar. Hari ini, Sabtu, 14 November 2015 telah menyempurnakan separuh agamanya. Semoga menjadi pasangan yang bahagia, sakinah, mawaddah, wa rohmah. Diberkahi dengan keturunan yang sholeh-sholehah.

Allah SWT berfirman dalam Ar-Ruum ayat 21:

{وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ} [الروم : 21]

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Akad nikah bukanlah semata-mata tuntasnya ucapan “ankahtuka…. ” yang disambut dengan jawaban “qobiltu…. “, tetapi lebih agung dari itu. Sebuah janji suci yang sangat sakral karena terpenuhilah separuh dari agama.

Saking sakralnya, pandangan sang ayah sekaligus sebagai wali nikah tak lepas memandang sang mempelai pria. Lekat sekali. Begitu tajam. Karena kepada pria inilah ia akan memasrahkan masa depan putrinya. Putri yang diasuhnya semenjak lahir bersama sang istri tercinta.

Mendengar tangisnya ketika baru keluar dari rahim istrinya. Melihatnya dapat duduk sambil “mengemut” apapun yang dapat diraihnya. Melihatnya berjalan tertatih-tatih, terkadang jatuh tanpa mengurangi semangatnya sedikitpun. Hingga dapat berlari mengejar kucing yang berjalan menggoda untuk dikejar.

Ijab Qabul di Masjid Assalaam

Ijab Qabul di Masjid Assalaam

Kemudian tumbuh, mengenakan seragam putih merah, menyanyikan lagu daerah bersama-sama dengan temannya. “nyantri” di pesantren enam tahun lamanya, meraup ilmu sekaligus tumbuh menjadi gadis remaja.

Kini, putrinya telah tumbuh dewasa. Mengenakan gaun putih. Duduk di sampingnya, sang pria yang sudah sah menjadi suaminya. Mengucapkan poin-poin dalam buku nikah sebagai pelengkap akad nikah di mata hukum negara.

Turut menyaksikan keluarga besar, baik dari keluarga pengantin maupun pesantren. Karena perjanjian suci ini berlangsung dalam masjid pesantren. Masjid yang penuh kenangan bagi pasangan pengantin baru ini. Karena mungkin, di masjid inilah keduanya bertemu semasa “nyantri” dulu. Sang istri menyaksikan suaminya dari lantai atas. Atau sang suami yang secara tak sengaja melihat sang istri turun dari masjid. Cie cieee😛

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: